ROBERT ADHI KSP

Buku berjudul “Thomas Sugijata, Bekerja di Dapur Reformasi Birokrasi” merupakan biografi profesional Thomas Sugijata, Direktur Jenderal Bea dan Cukai (2009-2011) — yang sebelumnya berperan penting dalam Reformasi Kepabeanan dan Cukai 2002-2003 dan Reformasi Birokrasi Bea dan Cukai 2006-2010. Hal paling menonjol dari kepemimpinan Thomas Sugijata adalah sosoknya sebagai seorang reformis di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Thomas menekankan pentingnya transformasi budaya yang menjadi fondasi yang kokoh dalam reformasi di Ditjen Bea dan Cukai. 

Reformasi di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai sudah dilakukan sejak lama. Terakhir dilaksanakan pada 2002 melalui program reformasi lanjutan dengan asistensi Dana Moneter Internasional (IMF). Namun perbaikan di tubuh Ditjen Bea dan Cukai masih terasa lamban. Ditjen BC dituntut melaksanakan reformasi lebih cepat dengan kinerja lebih tinggi. Tanda-tanda institusi Bea dan Cukai mundur kembali adalah mulai adanya ketidakpuasan pemangku kepentingan (stakeholder) terhadap kinerja Bea dan Cukai, berkaitan dengan pelayanan, ekspektasi, harapan dan perilaku koruptif. Dalam kondisi seperti tersebut, Thomas menyatakan, “reformasi menjadi jawaban.” 

Setelah 17 tahun berkarier di Ditjen BC, Thomas Sugijata dipercaya menduduki jabatan strategis sebagai Direktur Pencegahan dan Penyidikan Penyelundupan (P2), “tangan kanan” dan “mata dan telinga” Dirjen Bea dan Cukai. Setelah itu, Thomas ditugaskan di Direktorat Perencanaan Penerimaan, kemudian menjabat Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai (2001-2005). 

Thomas Sugijata, Dirjen Bea dan Cukai 2009-2011

Pada 2009, Thomas Sugijata dilantik kembali sebagai Direktur Penindakan dan Penyidikan (P2). Di pengujung tahun 2009, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melantik Thomas Sugijata sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai.

Buku biografi profesional “Thomas Sugijata, Bekerja di Dapur Reformasi Birokrasi” diluncurkan resmi di Kantor Pusat Bea dan Cukai di Jakarta Timur, Kamis 23 Oktober 2025. Foto oleh Johannes/BPPK Kemenkeu RI

Buku ini diluncurkan secara resmi di Kantor Pusat Ditjen Bea dan Cukai, Kamis 23 Oktober 2025, dihadiri Sekjen Kementerian Keuangan Heru Pambudi – yang juga Dirjen Bea dan Cukai 2015-2021; Dirjen Bea dan Cukai 1991-1998 Soehardjo Soebardi; Dirjen Bea dan Cukai 2006-2009 Anwar Suprijadi; Direktur Kerja Sama Internasional Ditjen Bea dan Cukai Anita Iskandar mewakili Dirjen Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama; Pelaksana Tugas Kepala Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kemenkeu Sudarto -yang juga Staf Ahli Menkeu Bidang Pengeluaran Negara; Staf Ahli Menkeu Bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak Agus Rofiudin; Staf Ahli Bidang Pembangunan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto; sejumlah narasumber buku, serta undangan lainnya.

Buku biografi profesional “Thomas Sugijata, Bekerja di Dapur Reformasi Birokrasi” diluncurkan resmi di Kantor Pusat Bea dan Cukai di Jakarta Timur, Kamis 23 Oktober 2025. Foto oleh Johannes/BPPK Kemenkeu RI

Bedah buku yang dipandu Joppy T. Sentana ini selain menampilkan Thomas Sugijata, juga penulis Robert Adhi Ksp dan Pittor Saragih, serta Guru Besar Manajemen dari Universitas Pancasila Prof Arissetyo Nugroho.

Robert Adhi Ksp (penulis buku) menyalami Thomas Sugijata, disaksikan Pelaksana Tugas Kepala BPPK Kemenkeu RI Sudarto dan Direktur Kerja Sama Internasional Ditjen Bea dan Cukai Anita Iskandar. Foto oleh Johannes/BPPK Kemenkeu RI
Robert Adhi Ksp dalam bedah buku, 23 Oktober 2025. Foto oleh Johannes/BPPK Kemenkeu RI

Buku ini diberi pengantar oleh Menteri Keuangan 2006-2010 dan 2016-2025 Sri Mulyani Indrawati yang melantik Thomas Sugijata sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai pada akhir 2009. Sri Mulyani saat itu membutuhkan sosok Dirjen yang reformis, dan Thomas Sugijata adalah pilihan yang tepat. 

Dalam sambutan saat pelantikan Thomas Sugijata sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai, Sri Mulyani menyampaikan bahwa keberhasilan dan prestasi yang sudah didapat Bea dan Cukai selama ini juga merupakan prestasi jajaran Bea dan Cukai yang tidak mudah didapatkan. Hal penting yang harus digarisbawahi di sini adalah penetapan Presiden ini merupakan langkah yang sangat penting untuk Bea dan Cukai karena ini merupakan kepercayaan yang diberikan oleh negara dan masyarakat usaha untuk peningkatan Bea dan Cukai ke depannya nanti. 

Kepercayaan ini bukanlah tiket yang tidak ada konsekuensinya. “Konsekuensinya adalah Dirjen Bea dan Cukai maupun pejabatnya harus berhasil meningkatkan prestasi yang saat ini sudah didapat. Jika dirjen gagal, maka seluruh jajaran Bea dan Cukai akan gagal, dan ini ujian bagi Korps Ditjen Bea dan Cukai,” kata Sri Mulyani mengingatkan. 

Pemimpin Visioner

Sekretaris Jenderal Kementerian Keuangan Heru Pambudi  dalam Prolog di buku ini menyebutkan, Thomas Sugijata adalah seorang pemimpin visioner yang telah memberikan kontribusi besar bagi sejarah reformasi Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai serta Kementerian Keuangan. Buku ini tidak sekadar mencatat perjalanan hidup seorang tokoh, tetapi juga merekam babak penting dalam perjalanan birokrasi Indonesia. Di dalamnya tergambar keteladanan seorang reformis sejati, berdedikasi, dan teguh hatinya sehingga menjadi bagian dari fondasi perubahan untuk sebuah institusi strategis di negeri ini. 

Sekjen Kementerian Keuangan RI Heru Pambudi (kanan), Thomas Sugijata (tengah), Robert Adhi Ksp (kiri)

“Karier Pak Thomas di lingkungan bea cukai adalah saksi bagaimana transformasi besar tidak pernah lahir dari proses yang singkat, melainkan melalui rangkaian langkah penuh perhitungan dan kerja keras yang konsisten. Pak Thomas memegang peranan penting dalam Tim Reformasi Kepabeanan dan Cukai pada tahun 2002–2005. Kepemimpinannya semakin nyata ketika dipercaya sebagai Ketua Tim Percepatan Reformasi sejak tahun 2006, hingga akhirnya beliau memimpin langsung institusi Bea dan Cukai sebagai Direktur Jenderal pada periode 2009–2011. Seluruh perjalanan ini adalah bukti nyata bahwa perubahan sejati menuntut visi yang jelas, keberanian mengambil risiko, dan keuletan dalam menghadapi berbagai tantangan,” ungkap Heru Pambudi.  

Menurut Heru Pambudi,  Thomas Sugijata dikenal sebagai sosok yang memiliki pandangan jauh ke depan — yang memahami bahwa reformasi birokrasi tidak dapat hanya mengandalkan peraturan atau sistem teknologi, melainkan harus dimulai dari pembentukan budaya organisasi yang kokoh. Bagi Thomas, pola pikir adalah fondasi utama. Jika pola pikir telah terbentuk dengan benar, maka tindakan akan selaras, dan kebijakan teknokratis pun dapat berjalan efektif. Filosofi ini tentulah terbentuk dari pengalaman panjang sejak awal menjadi pegawai, pengalaman saat memegang beberapa jabatan strategis dan pada akhirnya semakin nyata ia wujudkan melalui berbagai langkah konkret yang menandai masa kepemimpinannya sebagai direktur jenderal. 

Reformasi dilakukan secara menyeluruh: mulai dari pembaruan regulasi, penguatan integritas, sampai pemanfaatan teknologi digital untuk meningkatkan pelayanan publik. Salah satu inovasi besar yang menjadi tonggak sejarah adalah pembentukan Passenger Analysis Unit (PAU), yaitu sistem pengawasan yang mampu memadukan data penerbangan dan informasi penumpang untuk mendukung penegakan hukum dan pencegahan penyelundupan narkoba. Saat itu, sedikit sekali negara yang mengembangkan sistem yang visioner ini dan kelak sangat dirasakan manfaatnya bukan hanya bagi bea dan cukai, tetapi juga bagi Indonesia.

Ketika Heru Pambudi ditunjuk oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk menjabat Direktur Jenderal Bea dan Cukai pada 1 Juli 2015, Heru segera meminta nasihat kepada Thomas Sugijata. “Dengan tegas beliau berpesan, ‘Kuatkan dan segerakan transformasi budaya.’ Pesan singkat tersebut mengandung makna yang dalam: reformasi bea dan cukai akan berhasil jika dimulai dari pembentukan pola pikir yang benar, peneguhan integritas, dan kedisiplinan yang kokoh. Dari landasan pola pikir inilah lahir pola tindakan yang menjadi strategi teknokratis. Perspektif ini menjadi pedoman saya dalam memimpin, sekaligus bukti bahwa esensi perubahan terletak pada manusia sebagai pelaku utama reformasi,” ungkap Heru Pambudi. 

Peran dan Pengaruh Ayah

Selain memuat tentang Reformasi Birokrasi di Ditjen Bea Cukai, buku ini juga mengisahkan perjalanan karier Thomas Sugijata — yang lahir pada 1951 sebagai anak keenam dari delapan bersaudara, tiga tahun setelah Serangan 1 Maret 1949 di Yogyakarta. Ayahnya guru SD lulusan Sekolah Guru Van Lith Muntilan — yang memberikan teladan dan mengajarkan nilai- nilai integritas dan profesionalisme. Didikan dan teladan sang ayah mempengaruhi kehidupan anak- anaknya —termasuk Thomas.

Perjalanan hidup Thomas Sugijata terbentuk dari keluarga besarnya. Ayahnya seorang guru lulusan Sekolah Van Lith di Muntilan yang mengajarkan anak-anaknya tentang kehidupan. “Pengaruh bapak yang berprofesi sebagai guru SD sangat besar bagi perkembangan kami, anak-anaknya, termasuk Thomas Sugijata. Bapak mengajarkan kami nilai-nilai integritas dan profesionalisme,” kata Antonius Sujata, kakak kandung Thomas Sugijata.

Antonius Sujata, kakak kandung Thomas Sugijata

“Bapak menulis pitutur atau nasihat-nasihat yang kemudian disampaikan dalam mocopat yang digelar setiap malam Jumat dalam inkulturasi doa di gereja. Semua ibadat inkulturasi dibawakan dalam bahasa Jawa. Substansinya terutama untuk memuji Tuhan, sekaligus memberikan pitutur kepada semua yang hadir agar selalu ingat kepada Tuhan, melaksanakan semua petunjuk-Nya, memohon pertolongan Tuhan, dan berserah diri pada Tuhan. Itulah yang menjadi panduan hidup kami semua, menjadi bekal spiritualitas dalam menghadapi segala tantangan hidup di kemudian hari. Saya yakin apa yang dialami Thomas Sugijata dalam perjalanan kariernya diwarnai oleh nilai-nilai yang telah diwariskan oleh orang tua kami. Bapak tak banyak bicara, tetapi memberikan teladan,” ungkap Anton Sujata yang pernah menjabat Jaksa Agung Muda Bidang Pidana Khusus (Jampidsus) dan Ketua Ombudsman RI.

Akuntan dan “Orang Lapangan”, Miliki Jiwa Kepemimpinan

Soehardjo Soebardi, Dirjen Bea dan Cukai 1991-1998 melihat Thomas Sugijata punya kemampuan tidak hanya di bidang akademik dan keilmuan sebagai akuntan, tetapi juga kemampuan sebagai orang lapangan dan memiliki kepemimpinan. Soehardjo menaikkan pangkatnya dan memberinya jabatan-jabatan strategis. 

Duduk: Soehardjo Soebardi, Dirjen Bea dan Cukai 1991-1998 (kiri) dan Thomas Sugijata, Dirjen Bea dan Cukai 2009-2011 (kanan). Berdiri: Arissetyanto Nugroho, Guru Besar Manajemen Universitas Pancasila (kiri) dan Robert Adhi Ksp, penulis buku

“Tidak semua orang mampu bekerja sebagai orang yang piawai beroperasi di lapangan, sekaligus sebagai akademisi yang ahli di bidang akuntansi. Thomas Sugijata punya kemampuan bekerja di lapangan dan mengendalikan wilayah rawan penyelundupan, sekaligus sebagai pemikir dan pakar yang menguasai bidang akuntansi. Dia mampu menggabungkan pengetahuannya dalam tugas-tugas di lapangan. Ini hal sulit dan tidak mudah, tetapi Thomas membuktikan dia mampu. Inilah yang mendasari alasan saya mempromosikannya. Selain itu, Thomas juga mampu menjalin koordinasi dan bersinergi dengan instansi terkait untuk memperlancar tugas-tugasnya di Ditjen Bea dan Cukai,” kata Soehardjo tentang Thomas Sugijata. 

Buku ini dilengkapi dengan testimoni narasumber yang sebelumnya pernah menjadi anggota tim dan staf Thomas Sugijata. Haryo Limanseto — kini Staf Ahli Bidang  Pembangunan pada Kementerian Koordinator Perekonomian (2024-sekarang) menungkapkan, Pak Thomas Sugijata adalah sosok yang berperan besar dalam reformasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Ketika Pak Thomas menjabat Direktur Jenderal Bea dan Cukai pada periode 2009-2011, institusi ini berada di persimpangan jalan. Dihadapkan pada tuntutan perubahan dari dalam dan luar, sekaligus dibebani tantangan struktural. Di tengah situasi itulah, Pak Thomas muncul sebagai figur yang tak hanya memahami kedalaman masalah, tetapi juga berani menawarkan jalan keluar. 

“Pak Thomas bukan tipe pemimpin yang mencari ketenaran. Pendekatannya sederhana, tetapi kuat: membangun fondasi yang kokoh daripada mengejar perubahan kosmetik. Salah satu langkah visioner Pak Thomas yang saya kagumi adalah upaya beliau memaksimalkan fungsi dan peran Pusat Kepatuhan Internal Kepabeanan dan Cukai (PUSKI) — yang pada saat itu merupakan unit baru yang dibentuk sebagai bagian penting proses reformasi di tubuh Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,” kata Haryo Limanseto yang juga Juru Bicara Kemenko Perekonomian (2020-sekarang). 

Kushari Suprianto, Sekretaris Ditjen Bea dan Cukai (2015-2018) berpendapat, “Pak Thomas Sugijata layak disebut sebagai Bapak Reformasi Kepabeanan dan Cukai di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Di setiap penugasan, Pak Thomas selalu menciptakan inisiatif-inisiatif baru untuk menjadikan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai lebih baik dalam upaya mendukung tugas pokok dan fungsi yang dibebankan undang-undang.”

Bagi Kukuh Sumardono Basuki, Kepala Kanwil Bea dan Cukai Kalimantan Timur (2021-2022), “Kesempatan bekerja sama dengan Pak Thomas Sugijata merupakan masa pengembangan diri yang paling mengesankan. Kebersamaan kami tidak lama, hanya sekitar lima hingga enam tahun, tetapi masa tersebut terasa penuh dengan hal-hal luar biasa, yang mematangkan perjalanan karier saya sebagai pegawai Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Lima sampai enam tahun membersamai Pak Thomas Sugijata merupakan pengalaman yang sangat berharga bagi saya, lima sampai enam tahun yang mematangkan pemikiran dan pemahaman saya tentang peran strategis DJBC. Saya rasa, dalam kebersamaan kami, saya mengambil manfaat dan pelajaran berharga yang jauh lebih banyak dari sumbangan yang dapat saya berikan.”

Prof Hamdy Hady, dosen Program Pascasarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Persada Indonesia; dan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Trisakti mengatakan, Thomas Sugijata seorang akuntan alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, adalah salah seorang perintis pendirian Direktorat Perencanaan Penerimaan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Kementerian Keuangan RI. Bahkan, pada tahun 2006-2010, Thomas Sugijata ditunjuk sebagai Ketua Tim Kerja Percepatan Reformasi, yang kemudian ditunjuk sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai periode 2009-2011. Hasilnya dapat kita lihat saat ini. Kinerja pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai semakin hari semakin baik dan membanggakan.

Menurut Bahaduri Wijayanta BM, Direktur Penindakan dan Penyidikan Ditjen Bea dan Cukai (2017-2024), generasi muda di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai perlu lebih mengenal Thomas Sugijata, sosok yang berperan penting mendorong reformasi Bea dan Cukai yang penuh tantangan dan kompleks. Thomas Sugijata adalah sosok pemimpin yang mampu menginspirasi timnya dalam menyusun strategi, sekaligus menggerakkan anggotanya untuk mengeksekusi keputusan. 

“Pak Thomas Sugijata adalah peletak dasar reformasi Bea dan Cukai, yang bukan hanya bisa menuangkan ide dan gagasan dalam bentuk strategi, tetapi juga —ini yang tidak kalah penting— piawai dalam mengawal dan meyakinkan jajarannya: bagaimana strategi itu bisa dieksekusi dengan baik di jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai pada periode 2007-2011. Perubahan yang mendasar, serentak, dan berkesinambungan pun dilaksanakan di Bea dan Cukai. Faktor persistensi dan resiliensi Pak Thomas membuat reformasi di DJBC berjalan dengan baik,” kata Wijayanta. 

Dalam pandangan Maimun, Kepala Kanwil Bea dan Cukai Sumatera Utara (2010-2012), salah satu kelebihan utama Thomas Sugijata adalah kemampuannya sebagai seorang problem solver yang andal. Dalam situasi yang penuh tekanan sekalipun, beliau mampu tetap tenang, menganalisis masalah secara menyeluruh, dan menemukan solusi yang praktis serta efektif. “Ketika menghadapi tantangan besar dalam mencapai target kerja, baik pada Direktorat P2 maupun pada Sekretariat, beliau memimpin tim dengan kepercayaan diri dan memberikan arahan yang jelas. Berkat kepemimpinan Pak Thomas, setiap target kerja yang telah ditetapkan dapat dicapai dengan baik, bahkan sering kali melampaui ekspektasi,” katanya. 

Joko Sugiyanto, Kepala Seksi Pelayanan Kepabeanan dan Cukai X KPPBC Tipe Madya Pabean A Tangerang (2015-2017) menilai, Thomas Sugijata adalah sosok pemimpin yang patut dijadikan teladan. Beliau dikenal sebagai pribadi yang low profile, pekerja keras, dan tidak mengenal lelah dalam menjalankan tugasnya. Kepada anak buahnya, beliau tidak hanya memberi arahan, tetapi juga membimbing dengan penuh kesabaran dan keteladanan.

Eddhie Sutarto,  Kepala Kantor Pelayanan dan Pengawasan Bea dan Cukai Tanjung Emas Semarang (2010-2011) berpendapat, Thomas Sugijata adalah pemimpin tulodo laku utama, yang berintegritas dalam memimpin dan patuh dalam tata nilai dan budaya organisasi. “Beliau mendorong pengembangan kemajuan pembelajaran anak buah sekaligus sebagai pelaku yang mengembangkan pembelajaran,” tuturnya. 

Bagi Septia Atma, Kepala Kanwil Bea dan Cukai Maluku, Papua, Papua Barat (2011-2015), banyak prestasi yang ditorehkan Thomas Sugijata semasa menjabat Kabid P2 di Tanjung Balai Karimun dan Direktur P2, di antaranya penangkapan kapal penyelundup yang mengangkut BBM, pasir timah, bahan peledak, tekstil dan produk tekstil, barang elektronik, dan MMEA, termasuk penangkapan pemilik pabrik pembuat pita cukai palsu di Jalan Andong, Slipi, Jakarta Barat, yang penuh tantangan dan liku-liku proses intelijen.  Thomas selalu mengikuti proses penindakannya. 

“Saya dan tim yang pernah bekerja di bawah komando Pak Thomas berterima kasih atas bimbingan dan prestasi yang telah dilalui bersama. Terima kasih atas bimbingan dan prestasi yang telah ditorehkan bersama untuk institusi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai,” ujar Septia.  

Keluarga, “Rumah” yang Hangat

Keluarga adalah “rumah” yang hangat bagi Thomas Sugijata. Di tengah kesibukannya mengabdi Negara, Thomas tidak melupakan istri dan anak-anaknya. Istrinya, Maria Eni Budi Utami, selalu mendukung dan membantu tugas-tugas suaminya hingga di puncak kariernya sebagai Direktur Jenderal Bea Cukai. Sosok ayah dengan karakter yang kuat: disiplin dan tegas telah membentuk tiga anaknya menjadi seperti saat ini. Kisah Thomas Sugijata dilengkapi dengan testimoni istri dan anak-anak, dan cucunya.  

Keluarga besar Thomas Sugijata

“Saya bersyukur karena Mas Gi (Pak Thomas Sugijata) dapat mendaki perjalanan kariernya di Bea dan Cukai sampai pada puncak yaitu sebagai Direktur Jenderal Bea dan Cukai. Dalam tingkat kesibukan yang tinggi, Pak Thomas tetap memikirkan keluarga. Saya merasakan keseimbangan antara karier dan kehidupan, namun tidak berarti 50% karier dan 50% untuk keluarga. Memberi perhatian dan komunikasi dengan keluarga meskipun hanya sebentar waktunya tetapi saya menganggap tinggi kualitasnya. Hal ini yang dilakukan oleh Pak Thomas walaupun dalam tingkat kegiatan menyelesaikan tugas-tugas kantor yang sangat padat. Kebahagiaan untuk berkumpul dan berjalan bersama dengan keluarga menjadi kebiasaan yang sampai sekarang tetap konsisten,” ungkap Maria Eni Budi Utami, istri Thomas. 

Anak pertama, Hendrikus Ardianto bercerita, ketika ayahnya bertugas sebagai Direktur Pencegahan dan Penyidikan Penyelundupan pada tahun 1996, sang ayah sering tampil di televisi dan surat kabar berkaitan dengan berita barang-barang selundupan narkotika dalam jumlah besar. 

“Saya dan keluarga cukup tegang karena sering ada telepon gelap di tengah malam. Saya tidak bisa mengabaikan atau mematikan nada dering telepon, karena pada saat yang sama Papa selalu standby 24 jam untuk merespons telepon dari Tim Pemberantasan Penyelundupan  seluruh Indonesia yang meminta arahan operasional di lapangan. Hampir setiap malam ada telepon yang tidak jelas asal-usulnya. Namun, Papa meyakinkan kami untuk tetap tenang dan tidak gentar, karena Papa percaya yang dilakukannya adalah hal baik sehingga Tuhan akan melindunginya dan keluarga,” ungkapnya.

“Keyakinan itu jugalah yang membuat Papa hingga menjabat Direktur Jenderal tidak pernah meminta penjagaan Petugas Keamanan Dalam Bea dan Cukai (PKD) seperti halnya pejabat lain. Bahkan, sampai driver yang rutin mengantarnya juga driver keluarga kami, bukan driver dari kantor,” cerita Hendrikus. 

Anak kedua, Johanes Bayu Kristianto menuturkan, sejak dia kecil, ayahnya  menanamkan nilai yang sangat kuat: hidup harus dijalani dengan kerja keras. Jangan mengandalkan privilege. Meski beliau seorang PNS, kami tidak pernah mendapat keistimewaan. Semua kami upayakan sendiri. Dan dari situlah kami belajar arti kemandirian, harga diri, dan perjuangan yang sesungguhnya. 

“Kini Papa telah pensiun, tetapi semangatnya tetap menyala terus berkarya dan ingin berkontribusi. Saya juga bersyukur anak saya bisa tumbuh dekat dengan eyang kakungnya. Mereka sama-sama pecinta sepak bola, punya klub favorit yang sama, yaitu Arsenal, dan bisa menghabiskan waktu lama hanya untuk membahas pertandingan atau pemain andalan. Ada kehangatan lintas generasi di sana, dari Papa ke saya, dari saya ke anak saya. Itu sungguh tak ternilai,” urai Bayu.

Anak ketiga, Angela Christianti Natalia bercerita tentang hobi yang sama yaitu nonton sepak bola. “Kami sekeluarga punya klub bola favorit yang berbeda. Saya pendukung Manchester United, sedangkan Papa pendukung Arsenal. Saling ‘mengejek’ satu sama lain pada saat tim favorit kalah adalah hobi kamI,” ungkap Angela. 

Apa yang Thomas telah lakukan dalam keluarga, membangun kebersamaan dalam komunitas dan kerja-kerja pelayanan, sebetulnya menjadi kewajiban Thomas dalam merealisasikan moto menjadi “man for others”. 

Ucapan Terima Kasih

Buku Thomas Sugijata, Bekerja di Dapur Reformasi Birokrasi, biografí profesional Thomas Sugijata, Direktur Jenderal Bea dan Cukai periode 2009-2011, terwujud atas dukungan Pak Thomas Sugijata; Pak Heru Pambudi, Sekretaris Jenderal   Kementerian Keuangan RI; Pak Bambang Juli Istanto, Sekretaris Badan Keuangan RI; Pak Bambang Juli Istanto, Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan(BPPK) Kementerian Keuangan RI; Afriansyah Darwin, Kepala Bagian Manajemen Pengetahuan, Komunikasi, dan Kerja Sama BPPK; dan Purnomo, Kabag di Sekretariat Jenderal Kemenkeu RI.  Terima kasih kepada sahabat saya, Pittor Saragih, atas kerja sama dalam penulisan dan penyusunan buku ini. 

Terima kasih kepada semua narasumber buku ini, termasuk di antaranya Bapak Antonius Sujata (kakak kandung Pak Thomas Sugijata), dan Bapak Soehardjo Soebardi (Dirjen Bea dan Cukai 1991-1998) yang menerima penulis di kediaman pribadi. 

Terima kasih kepada Tim BPPK Akmal Rizki, Shirlee Marbun, Bilqis Ichsani, Timothty Yossi, Alfan Fahravi, yang memberi dukungan teknis untuk kelancaran penulisan buku ini. Terima kasih kepada Papyrus Photo dan Angela Christianti Natalia yang berkontribusi dalam pembuatan sampul depan.  

Kementerian Keuangan RI memiliki banyak pemimpin yang layak diteladani oleh generasi muda. Mereka telah bekerja keras, membuat banyak legacy di Kemenkeu. Jika tidak terekam dalam buku, apa yang telah mereka sumbangkan dalam bentuk tenaga dan pemikiran untuk Kemenkeu dan Negara ini, tidak tercatat dan ada kemungkinan hilang dalam ingatan dalam beberapa tahun ke depan. Karena itulah, buku ini ditulis untuk tetap merawat sejarah yang menunjukkan bahwa Kementerian Keuangan dalam perjalanannya telah berupaya melaksanakan reformasi birokrasi dengan sungguh-sungguh —meski tidak selalu mulus dan sempurna. 

Robert Adhi Ksp17 Oktober 2025

Thomas Sugijata, Working in the “Kitchen” of Bureaucratic Reform

The book entitled “Thomas Sugijata, Working in the Kitchen of Bureaucratic Reform” is a professional biography of Thomas Sugijata, Director General of Customs and Excise (2009-2011), who previously played an essential role in the 2002-2003 Customs and Excise Reform and the 2006-2010 Customs and Excise Bureaucratic Reform. The most prominent aspect of Thomas Sugijata’s leadership is his role as a reformer at the Directorate General of Customs and Excise. Thomas emphasized the importance of cultural transformation as a solid foundation for reform at the Directorate General of Customs and Excise.

Reforms within the Directorate General of Customs and Excise have been ongoing since 2002, initiated as part of a follow-up reform program supported by the International Monetary Fund (IMF). These efforts reflect a continuous process of institutional improvement spanning over two decades, illustrating the long-term commitment to reform.

However, improvements within the Directorate General of Customs and Excise are still slow. The Directorate General of Customs and Excise is required to implement reforms more quickly with higher performance. Signs that the Customs and Excise institution is going backwards include the beginning of stakeholder dissatisfaction with its performance, related to service, expectations, hopes, and corruption. In conditions like these, Thomas stated, “reform is the answer.”

After a 17-year career at the Directorate General of Customs and Excise, Thomas Sugijata was entrusted with strategic roles, including Director of Smuggling Prevention and Investigation (P2), serving as the ‘right hand’ and ‘eyes and ears’ of the Director General. Subsequently, he was assigned to the Directorate of Revenue Planning and served as Secretary of the Directorate General of Customs and Excise (2001-2005), demonstrating his growing influence in reform leadership.

This book was officially launched at the Head Office of the Directorate General of Customs and Excise, Thursday 23 October 2025, attended by the Secretary General of the Ministry of Finance Heru Pambudi – who is also the Director General of Customs and Excise 2015-2021; Director General of Customs and Excise 1991-1998 Soehardjo Soebardi; Director General of Customs and Excise 2006-2009 Anwar Suprijadi; Director of International Cooperation at the Directorate General of Customs and Excise, Anita Iskandar, representing the Director General of Customs and Excise, Djaka Budhi Utama; Acting Head of the Ministry of Finance’s Financial Education and Training Agency (BPPK), Sudarto – who is also Expert Staff to the Minister of Finance for State Expenditures; Expert Staff to the Minister of Finance for Non-Tax State Revenue, Agus Rofiudin; Expert Staff for Development at the Coordinating Ministry for Economic Affairs, Haryo Limanseto.

The 2006-2010 and 2016-2025 Minister of Finance, Sri Mulyani Indrawati, who appointed Thomas Sugijata as Director General of Customs and Excise at the end of 2009, has given an introduction in this book. Sri Mulyani needed a reformist Director General at the time, and Thomas Sugijata was the right choice.

In her remarks at the inauguration of Thomas Sugijata as Director General of Customs and Excise, Sri Mulyani said that the successes and achievements that Customs and Excise have achieved so far are also achievements of Customs and Excise staff that are not easy to obtain. The important thing to underline here is that this presidential decree is a significant step for Customs and Excise, as it represents the state’s and the business community’s trust in Customs and Excise for the future.

This belief comes with no guarantees and has consequences. “The consequence is that the Director General of Customs and Excise and his officials must succeed in improving the achievements they have currently achieved. If the Director General fails, then the entire ranks of Customs and Excise will fail, and this is a test for the Corps of the Directorate General of Customs and Excise,” reminded Sri Mulyani.

Visionary Leader

In the Prologue to this book, Secretary General of the Ministry of Finance, Heru Pambudi, emphasizes that Thomas Sugijata’s leadership has been pivotal in shaping the reform trajectory of the Directorate General of Customs and Excise and the Ministry of Finance. This recognition underscores his role as a key figure in Indonesia’s bureaucratic evolution, inspiring readers to appreciate the impact of visionary leadership in institutional change.

Mr. Thomas’ career in the customs environment is a testament to the fact that significant transformations are never born of a short process, but rather through a series of calculated steps and consistent hard work. Mr. Thomas played an essential role in the Customs and Excise Reform Team from 2002 to 2005. His leadership became even more evident when he was appointed Chair of the Reform Acceleration Team in 2006, and he later led the Customs and Excise institution directly as Director General during the 2009–2011 period. “This entire journey is clear proof that true change requires a clear vision, the courage to take risks, and tenacity in facing various challenges,” said Heru Pambudi.

According to Heru Pambudi, Thomas Sugijata has farsightedness, understanding that bureaucratic reform cannot rely solely on regulations or technological systems, but must start with the formation of a strong organizational culture.

For Thomas, actions will align, and technocratic policies can be effective after the mindset change. This philosophy was, of course, formed over long experience since he first became an employee, experience gained while holding several strategic positions, and, in the end, he made it more real through various concrete steps that marked his leadership period as director general.

Reforms are carried out comprehensively, from updating regulations and strengthening integrity to using digital technology to improve public services. One of the significant innovations that marks a historical milestone is the establishment of the Passenger Analysis Unit (PAU). This monitoring system combines flight data and passenger information to support law enforcement and prevent drug smuggling. At that time, very few countries had developed this visionary system, and in the future. The DG of Customs and Excise and Indonesia benefit.

When Heru Pambudi was appointed by the Minister of Finance, Sri Mulyani Indrawati, to serve as Director General of Customs and Excise on 1 July 2015, Heru immediately asked Thomas Sugijata for advice. “He firmly advised, ‘Strengthen and accelerate cultural transformation.’ This short message held deep meaning: customs and excise reform will succeed if it starts with the right mindset, strengthened integrity, and solid discipline. From the foundation of this mindset, action patterns emerged that became technocratic strategies. This perspective became my guide in leading, as well as proof that the essence of change lies in humans as the main actors of reform,” said Heru Pambudi.

The Role and Influence of Father

Apart from covering bureaucratic reform at the Directorate General of Customs and Excise, this book also tells the story of Thomas Sugijata, who was born in 1951, the sixth of eight children, three years after the 1 March 1949 attack in Yogyakarta. His father was an elementary school teacher who graduated from the Van Lith Muntilan Teachers’ School and set an example, teaching the values of integrity and professionalism. His father’s upbringing and example influenced his children, including Thomas.

His large family shaped Thomas Sugijata’s life journey. His father was a teacher who graduated from Van Lith School in Muntilan, and he taught his children about life. “The influence of our father, who works as an elementary school teacher, is huge on the development of us, his children, including Thomas Sugijata. Bapak taught us the values ​​of integrity and professionalism,” said Antonius Sujata, Thomas Sugijata’s older brother.

Bapak wrote the hymn or advice which is in the mocopat, which was held every Friday night during the inculturation prayer at the church —all inculturation services are in Javanese. The substance was mainly to praise God, to give the hymn to all those present, always to remember God, to carry out all His instructions, to ask for God’s help, and to surrender to God. That is what guides all of our lives, providing spiritual provisions in facing all life’s challenges in the future. I am sure what Thomas experienced, “The values that our parents passed down characterized Sugijata’s career journey. He didn’t talk much, but set an example,” said Anton Sujata, who once served as Deputy Attorney General for Special Crimes (Jampidsus) and Chairman of the Indonesian Ombudsman.

Accountant and “Field Person”, Have a Leadership Spirit

Soehardjo Soebardi, Director General of Customs and Excise from 1991-1998, saw that Thomas Sugijata had abilities not only in the academic and scientific fields as an accountant, but also as a field person and in leadership. Soehardjo promoted him and assigned him strategic positions.

“Not everyone can work as a person who is skilled at operating in the field, as well as an academic who is an expert in the field of accounting. Thomas Sugijata can work in field and control areas prone to smuggling, as well as serve as a thinker and expert who has mastered accounting. He can combine his knowledge in tasks in the field, and it isn’t easy, but Thomas has proven he is capable. It’s the reason why I promoted him. Apart from that, Thomas is also able to coordinate and synergize with related agencies to expedite his duties at the Directorate General of Customs and Excise. Excise,” said Soehardjo about Thomas Sugijata.

This book features testimonials from former members of Thomas Sugijata’s team and staff. Haryo Limanseto, currently Expert Staff for Development at the Coordinating Ministry for the Economy (2024-present), revealed that Mr. Thomas Sugijata has played a significant role in reforming the Directorate General of Customs and Excise. When Mr. Thomas served as Director General of Customs and Excise during the 2009-2011 period, this institution was at a crossroads—faced with demands for change from within and without, as well as structural challenges. In the midst of this situation, Mr. Thomas emerged as a figure who not only understood the depth of the problem but also dared to offer a solution.

“Mr. Thomas is not the type of leader who seeks fame. His approach is simple, but strong: building a solid foundation rather than pursuing cosmetic changes. One of Mr. Thomas’ visionary steps that I admire is his efforts to maximize the function and role of the Customs and Excise Internal Compliance Center (PUSKI) – which at that time was a new unit formed as an important part of the reform process within the Directorate General of Customs and Excise,” said Haryo Limanseto who is also Spokesperson for the Coordinating Ministry for the Economy (2020-present).

Kushari Suprianto, Secretary of the Directorate General of Customs and Excise (2015-2018), believes, “Mr. Thomas Sugijata deserves to be called the Father of Customs and Excise Reform at the Directorate General of Customs and Excise. In every assignment, Mr. Thomas always creates new initiatives to make the Directorate General of Customs and Excise better in an effort to support the main tasks and functions imposed by law.”

For Kukuh Sumardono Basuki, Head of the East Kalimantan Customs and Excise Regional Office (2021-2022), “The opportunity to work with Mr. Thomas Sugijata was the most impressive period of personal development. Our time together was short, only about five to six years. Still, that period felt full of extraordinary things, which finalized my career journey as an employee of the Directorate General of Customs and Excise (DJBC). Five to six years with Mr. Thomas Sugijata were a very valuable experience for me, during which I matured my thinking and understanding of DJBC’s strategic role. I think, in our time together, I took far more benefits and valuable lessons from the contributions I was able to make.”

Prof. Hamdy Hady, lecturer in the Postgraduate Program at the Faculty of Economics and Business, Persada Indonesia University, and the Faculty of Economics and Business, Trisakti University, said that Thomas Sugijata, an accountant who graduated from the Faculty of Economics, Gadjah Mada University (UGM), Yogyakarta, was one of the pioneers in establishing the Directorate of Revenue Planning, Directorate General of Customs and Excise, Ministry of Finance of the Republic of Indonesia. In fact, from 2006 to 2010, Thomas Sugijata served as Chair of the Reform Acceleration Working Team and was then appointed Director General of Customs and Excise for the 2009-2011 period. We can see the results now. The performance of the Directorate General of Customs and Excise in implementing its main tasks and functions is improving day by day.

According to Bahaduri Wijayanta BM, Director of Enforcement and Investigation at the Directorate General of Customs and Excise (2017-2024), the younger generation at the Directorate General of Customs and Excise needs to know more about Thomas Sugijata, a figure who played an essential role in pushing forward the challenging and complex Customs and Excise reform. Thomas Sugijata is a leader who can inspire his team to develop strategies and mobilize his members to execute decisions.

“Mr. Thomas Sugijata was the founding father of Customs and Excise reform, who was not only able to express his thoughts and ideas in the form of strategies, but also – this is no less important – was skilled in overseeing and convincing his staff: how this strategy could be executed well in the ranks of the Directorate General of Customs and Excise in the 2007-2011 period. Thomas Sugijata has implemented fundamental, simultaneous, and continuous changes in Customs and Excise. Mr. Thomas’s persistence and resilience helped ensure the reforms at DJBC ran smoothly,” said Wijayanta.

In Maimun’s view, Head of the North Sumatra Customs and Excise Regional Office (2010-2012), one of Thomas Sugijata’s main strengths is his reliability as a problem solver. Even in stressful situations, he remains calm, thoroughly analyzes issues, and finds practical, effective solutions. “When facing big challenges in achieving work targets, both at the P2 Directorate and at the Secretariat, he leads the team with confidence and provides clear direction. Thanks to Mr. Thomas’s leadership, which has achieved every work target well, often even exceeding expectations,” he said.

Joko Sugiyanto, Head of the Customs and Excise Services Section, is known as a person with a low profile, hardworking, and tireless in carrying out his duties. To his subordinates, he not only gave directions but also guided them with patience and example.

Eddhie Sutarto, Head of the Tanjung Emas Customs and Excise Service and Supervision Office, Semarang (2010-2011), believes that Thomas Sugijata is a prominent behavioral tulodo leader who has integrity in leading and adheres to the organization’s values and culture. “He encourages the development of subordinate learning progress as well as being an actor who develops learning,” he said.

For Septia Atma, Head of the Maluku Customs and Excise Regional Office, Papua, West Papua (2011-2015), Thomas Sugijata made many achievements when he served as Head of P2 Division in Tanjung Balai Karimun and Director of P2, including the arrest of smuggling vessels transporting fuel, tin sand, explosives, textiles and textile products, electronic goods, and MMEA, including the arrest of the owner of a factory making fake excise stamps on Jalan Andong, Slipi, West Jakarta, which was full of challenges and intricacies of the intelligence process. Thomas always follows the enforcement process.

“The team and I who have worked under the command of Mr. Thomas are grateful for the guidance and achievements. Thank you for the guidance and achievements that we have made together for the institution of the Directorate General of Customs and Excise,” said Septia.

Family, Warm “Home”

Family is a warm “home” for Thomas Sugijata. Amid his busy life serving the country, Thomas did not forget his wife and children. His wife, Maria Eni Budi Utami, always supported and assisted him in his duties, including during his tenure as Director General of Customs and Excise. A father figure with a strong character: discipline and firmness have shaped his three children into who they are today. Testimonies from his wife, children, and grandchildren have completed Sugijata’s story.

“I am grateful that Mas Gi (Mr. Thomas Sugijata) was able to climb his career path at Customs and Excise to the top, namely as Director General of Customs and Excise. Even though he was busy, Mas Gi still thinks about his family. I feel a balance between career and life, but that doesn’t mean 50% career and 50% for family. Giving attention and communicating with family, even for a short time, is considered high quality. What Thomas does, even though he is at a hectic pace, is complete office tasks. Happiness to gather and walk. “Together with family has become a habit that remains consistent to this day,” said Maria Eni Budi Utami, Thomas’ wife.

The first child, Hendrikus Ardianto, said that when his father served as Director of Smuggling Prevention and Investigation in 1996, his father often appeared on television and in newspapers reporting on large quantities of narcotics smuggled into the country.

“My family and I are quite tense because we often get phone calls in the middle of the night. I can’t ignore or turn off the ringtone because, at the same time, Papa is always on standby 24 hours a day to respond to calls from the Smuggling Eradication Team across Indonesia, requesting operational guidance in the field. Almost every night, there are calls whose origins are unclear. However, Papa convinces us to remain calm and not be afraid, because Papa believes that what he is doing is a good thing so that God will protect him and his family,” he said.

“That belief is also what made Papa, until he became Director General, never ask for security from Customs and Excise Security Officers (PKD) like other officials. In fact, even the drivers who regularly accompanied him were also our family drivers, not drivers from the office,” said Hendrikus.

The second child, Johanes Bayu Kristianto, said that since he was young, his father instilled in him an extreme value: that life is through hard work. Don’t rely on privilege. Even though he was a civil servant, we never had any privileges. We do everything ourselves. And from there, we learned the true meaning of independence, self-respect, and struggle.

“Now Papa has retired, but his enthusiasm is still burning, and he continues to work and wants to contribute. I am also grateful that my son can grow up close to his grandfather. They both love football, have the same favorite club, namely Arsenal, and can spend a long time just discussing matches or top players. There is a warmth across generations there, from Papa to me, from me to my son. That is truly priceless,” explained Bayu.

The third child, Angela Christianti Natalia, shared the same hobby: watching football. “As a family, we have different favorite football clubs. I support Manchester United, while Dad supports Arsenal. ‘Making fun of each other when our favorite team loses is our hobby,” said Angela.

What Thomas has done in the family, building togetherness in the community and doing service work, is actually Thomas’s obligation to realize the motto of being a “man for others”.